Ribuan Warga Magetan Ngalab Berkah Bolu Rahayu, Tradisi Pemkab Magetan Sambut Tahun Baru Jawa.

oleh

MAGETAN.GSINews.Net – Ribuan warga Kabupaten Magetan berebut kue bolu dalam kegiatan kirap nayaka praja yang digelar pemerintah Kabupaten Magetan dalam rangka menyambut pergantian tahun baru jawa 1952 saka dan hari jadi Kabupaten Magetan ke 343. Ribuan masyarakat Magetan terlihat antusias memperebutkan kue khas magetan yang disusun menjadi berbagai bentuk seperti gunungan, lesung, bedug, gong yang disertai gunungan yang dibuat dari hasil kebun pertanian. Sebagian warga bahkan rela bedesak desakan agar mendapat bagian kue bolu dengan harapan tahun ini merupaan tahun berkah bagi mereka. Bupati Kabupaten Magetan Dr. Drs. H. Suprawoto, SH. M.Si, kegiatan andum berkah bolu rahayu merupakan kegiatan tahunan yang gaungnya harus lebih di gemakan lagi. “ Ini even local semoga kedepan bisa menjadi even regional, suatu saat akan menjadi even nasional. Ini harus dikemas dengan semakin bagus dengan tarian kolosal seperti tadi,” ujarnya Kamis (27/09/2018)

Sebelum acara rebutan kue bolu dalam Andum berkah bolu rahayu, Bupati Kabupaten Magetan Dr. Drs. H. Suprawoto, SH. M.Si memimpin acara kirab nayaka praja. Kirab dengan menggunakan kereta kencana, andong serta kuda tersebut dimulai dari pendopo Kabupaten Nunukan kemudian menyusuri jalan alun alun bagian barat, kali gandong , menuju Jl A. Yani, Jl Bangka dan berbelok ke Jl MT Haryono, Jl hingga ke Pasar sayur Magetan kemudian menyusuri Yos Sudarso, Jalan Pasar Baru dan kembali ke alun alun sebelum barisan kue bolu di bagikan kepada masyaralat. Sepanjang jalan, Bupati Magetan yang didampingi istri dan Wakil Bupati Magetan didampingi suami yang  mengendarai kereta kencana disambut antusias warga yang memadati jalan sepanjang arak arakan barisan nayaka praja.

Dalam kegiatan tersebut, Bupati dan Wakil Bupati Magetan dan seluruh pejabat yag hadir mengenakan ageman gondokusuman dengan corak pring sedapur lengkap dengan blangkon kawibawan serta jarit nyabuk wolo yang merupakan busana khas Magetan. Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Kabupaten magetan Bambang Setiawan mengatakan, dalam kisahnya, busana ageman gondokusuman tersebut merupakan busana yang dikenakan oleh Basah Bibit Gondokusumo, seorang kerabata Keraton Mataram yang melaksanakan perjalanan dari Semarang tempat pengasingannya  hingga ke Magetan. Agar tidak diketahui oleh pihak Belanda, Basah Bibit Gondokusumo yang merupakan Bupati Pertama magetan dengan gelar RT Yosonegoro tersebut mengenakan baju ageman Gondokusuman. Meski busana yang dikenakan berbeda dengan busana kerabat kerajaan Solo atau disebut Mataram pada saat itu, namun pengaruh budaya kerajaan Solo tidak bisa di pungkiri. “Hingga  busana tersebut diabadikan sebagai busana khas Magetan sampai saat ini,” ucapnya.

Kirap Nayaka Projo sendiri memiliki makna pengejawantahan dari manunggaling kawulo gusti, dimana melalaui kirap tersebut bisa digambarkan sebagai bentuk dari pemegang tampuk pimpinan di Kabupaten Magetan yang sedang melakukan tilik kawulo atau menyambangi masyarakatnya. Sebelum kirab nayaka projo, Pemerintah Kabupaten Magetan juga menggelar Festival Seni Musik Ledhug. Ledhug memiliki makna Lesung dan Bedhug, dimana lesung  merupakan  alat pertanian sebagai penumbuk padi diwaknai warga sebagai Suro dan bedug yang merupakan alat musik yang mengiringi irama lesung yang dimaknai sebagai Muharam.

Kirab Nayaka Projo yang telah kembali sampai di alun alun Magetan disambut dengan tarian massal gendewo langkap yang ditarikan oleh ratusan penari yang masih berusia belia. Barisan kue bolu yang dibentuk tumpeng, bedug, lesung, gong dan gunungan dari hasil pertanian di Kabupaten Magetan kemudian di arak masuk ke alaun alun Magetan, tempat prosesi andum bolu rahayu dilaksanakan. Setelah di panjatkan permohonan kepada Yang maha Agung agar Kabupaten Magetan diberkahi dengan keselamatan dan kecukupan hasil bumi, warga kemudian dipersilahkan ngalab berkah berebut kue bolu. (GSINews-Soek)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *