Napak Tilas Ngupatan, Cara Mengajak Generasi Muda Mengenang Sejarah Perpindahan Pemerintahan Di Kabupaten Magetan.

oleh

MAGETAN.GSINews.Net – Ribuan warga Magetan antusias mengikuti kegiatan napak tilas Ngunut Parang Magetan atau Ngupatan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten Magetan. Bupati Kabupaten Magetan Dr. Drs. H. Suprawoto, SH. M.Si sendiri turun langsung mengibarkan bendera start di Parang.  Dia mengatakan, untuk mengajak generasi  muda  Kabupaten Magetan mengenang peristiwa perpindahan pusat pemerintahan Kabupaten Magetan pada tahun 1948 hingga tahun 1950 tersebut, pemerintah daerah setiap tahun menggelar kirap ngupatan dengan rute start di Desa Ngunut melewati Kecamatan Parang dan finish di pendopo Kabupaten Magetan dengan menempuh jarak lebih dari 15 kilometer. “Kita ajak generasi muda mengenang bahwa pemerintahan Kabupaten Magetan dulu pernah ada disini. Maknanya pemerintahan itu tidak boleh berhenti dalam situasi apapun, dalam situasi terdesak harus tetap bertahan,” ujarnya. Rumah joglo  dengan pintu dan jendela bercat hijau yang berada di Desa Ngunut Kecamatan Parang Kabupaten Magetan Jawa Timur tersebut dibangun oleh Kerto Merjo pada tahun 1704.  Wartini penghuni rumah saat ini merupakan generasi ke 4 dari Kerto Merjo. Dia  mengatakan, tiang utama  dan beberapa kayu peyangga rumah kayu yang bersejarah bagi perjalanan pemerintahan Kabupaten Magetan tersebut  masih asli dari tahun 1704. ” Tiangnya masih asli, dulu kasar karena menghaluskannya hanya pakai kapak. Direhab tahun 1980 oleh Bupati Sunarto kayu tiangnya dihaluskan,”katanya.

Rumah yang setiap tahun di jadikan lokasi start peserta napak tilas Ngunut menuju kecamatan  Parang dan finish di Pendopo Kabupaten Magetan (Napak Tilas Ngupatan) tersebut menurut Wartini tembok rumah yang dipugar pada tahun 1960 tersebut sudah mulai  rapuh dan retak dibeberapa bagian.  Pada saat itu untuk merekatkan batu hanya menggunakan campuran pasir dan gamping atau campuran kapur. “Sekarang temboknya sudah retak karena dulu tahun 1960 bangunnya hanya pakai gamping. Belum ada rehab kalau tembok ,” imbuhnya. Rumah Joglo yang dibangun tahun 1704 oleh mbah Kerto Merjo memang menjadi bagian dari kisah penyelenggaraan pemerintahan di Kabupaten Magetan. Pada tahun 1948 rumah yang terbuat dari kayu jadi tersebut menjadi kantor  penyelengaan pemerintahan pada tahun 1948 pada saat tentara Belanda menyerbu Kabupaten Magetan dalam agresi militer. Beberapa kali rumah tersebut lolos dari sergapan tentara Belanda yang berusaha menangkap Bupati Magetan. “ Kata orang tua dulu Belanda selalu lewat karena disangka rumah ini kawasan hutan,” ucap Wartini.

Sebelum melepas kegiatan napak tilas Ngupatan di Kecamatan Parang,  Bupati Magetan mengunjungi rumah joglo yang dibangun Kerto Merjo yang selama 2 tahun sempat difungsikan sebagai pusat pemerintahan Kabupaten Magetan. Bupati Magetan Suprawoto mengatakan, rumah mbah Kerto Merjo juga menyelematkan roda pemerintahan tetap berjalan saat agresi militer Belanda dan meletus pemberontakan oleh  Partai Komunis Indonesia PKI pimpinan Muso di Madiun pada tahun 1948. “ Walaupun Muso waktu itu menguasai Madiun, sebagai representasi permintahan di Kabupaten Magetan untuk memihak kepada Republik tetap ada, “ imbuhnya. (GSINews-Soek)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *