,

Tradisi Genduri Bungah Desa Bedingin Ponorogo

oleh

Foto : Genduri Bungah Desa Bedingin dipadati pengunjung (Fad/GSINews.Net).

PONOROGO.GSINews.Net – Tradisi Genduri Bungah  Desa Bedingin  Kecamatan  Sambit Kabupaten  Ponorogo  Jawa Timur  berlangsung meriah  dan spectakuler, dalam acara Genduri  Bungah  yang di gelar disalah satu Destinasi Wisata, yaitu di Lemah Gemplah Desa Bedingin, dan hadir juga Kepala Dinas Pariwista Kabupaten Ponorogo Lilik Slamet Raharjo dan juga para seniman dari Solo dan Jakarta.

Beginilah kemeriahan Genduri Bunga Desa Bedingin yang di gelar di Lemah Gemplah  malam kemarin, Kamis 25 Jui 2019, perpaduan tradisi lokal Desa dengan lighting yang  attraktif, membuat  destinasi Wisata Lemah Gemplah yang berada di Desa Bedingin ini menjadi pemandangan yang sangat menajubkan, dengan sorotan lighting yang menyinari perbukitan yang ada  di wisata Lemah Gemplah tersebut.

Beginilah suasana kemeriahan kearifan lokal Desa yang di kemas dengan tradisi Geduri Bungah ini. Kegiatan Genduri Bungah ini menampilkan sebuah Gunungan Hasil Bumi Desa setempat yang di arak keliling Desa oleh ratusan masyarakat menuju Wisata Lemah Gemplah yang berada di perbukitan Desa Setempat.

Terkait acara tersebut Kepala Desa Bedingin Marjuki menjelasakan, bahwa kegiatan Genduri Bungah ini merupakan ungkapan syukur Masyarakat Desa Bedingin terhadap Tuhan Sang Pencipta Alam, yang telah memberikan berkahnya kepada Desa dan Masyarakat Bedingin dalam kehidupan yang  baik.

Genduri Bungah untuk mengajak masyarakat Bedingin agar selalu bersyukur  kepada Tuhan apa yang telah di berikan berupa kehidupan yang baik selama ini, sehingga Masyarakat Bedingin selalu di berikan kesadarannnya untuk hidup yang bungah atau senang dan selalu bersyukur dalam kondisi apapun.

Marjuki menambahkan, bahwa rangkaian acara Genduri Bungah ini, di mulai sejak Tanggal 22 Juli 2019, di awali dengan peyelenggaraan workshop tari, dari seniman seniman Nasional. Kepada pemuda dan anak anak Desa, dan di harapkan dengan workshop  ini, anak anak Desa senantiasa mencintai budaya sendiri khususnya Tradisi Budaya yang ada di Desanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *