,

Hari Jadi Kota Ngawi Yang Ke 662 Jamasan Pusaka Di Pendopo Kabupaten Ngawi

oleh

Foto : Tradisi jamasan pusaka Kabupaten Ngawi digelar di Pendopo Wedya Graha pada Senin Pagi (Eko B/GSINews.Net).

NGAWI.GSINews.Net – Tradisi jamasan pusaka Kabupaten Ngawi digelar di Pendopo Wedya Graha. Senin Pagi, kegiatan kebudayaan ini sedikit berbeda tehnis pelaksanaannya dari tahun sebelumnya, yakni menerapkan protokol kesehatan, setiap undangan yang hendak masuk diwajibkan untuk cuci tangan pakai sabun dan air mengalir, serta diwajibkan memakai sarung tangan dan face shield.

Ritual ini dipimpin langsung oleh Bupati Ngawi Budi Sulistyono dan diikuti oleh forum koordinasi pimpinan daerah, forpimda, serta para pejabat Pemkab Ngawi dengan memakai pakaian adat kejawen yang berlangsung dengan khidmat,  jamasan pusaka yang merupakan warisan para pendiri Kabupaten Ngawi pada masanya itu dilakukan oleh sesepuh agung.

Awalnya Keempat Pusaka Kabupaten Ngawi meliputi dua buah tombak, Kyai Singkir dan Kyai Songgolangit, dua buah paying Tunggul Wulung dan Tunggul Warono diboyong dari plangkanya yang ada didalam Pendopo Wedya Graha dengan dikawal oleh lima sesepuh yang dipimpin oleh Ki Sugito, suasana makin bertambah sacral ketika lantunan gending pakurmatan tengah mengiringi jamasan pusaka.

Satu persatu pusaka yang cukup memiliki filosofi ini disiram dengan beberapa rupa kembang dan sesaji lainnya diikuti dengan kalimat mantra dari sesepuh, yang tergabung dalam paguyuban permadani Persatuan Masyarakat Budaya Nasional Indonesia Cabang Kabupaten Ngawi, dua tumbak dan dua payung tersebut  konon merupakan peninggalan para adipati yang memegang kekuasaan di era zaman Majapahit, empat pusaka tersebut merupakan bagian dari sejarah Ngawi  yang telah berdiri sejak 662 tahun yang lalu, sebagai bagian dari wilayah kerajaan Majapahit, dari banyak pusaka tradisional, empat pusaka tersebut diresmikan menjadi simbol budaya sekitar dekade 1990.

Jamasan pusaka merupakan bagian dari wujud melestarikan budaya yang adiluhung, sehingga kedepannya para generasi muda akan tahu kebudayaan yang diwariskan oleh para leluhurnya, dengan harapan warga mengenang berdirinya kabupaten ngawi, bahkan sebelum ada pemerintahan, usai jamasan pusaka malam tirakatan juga akan digelar, sebagai bentuk rasa syukur pada Tuhan Yang Maha Esa, bahwa Kabupaten Ngawi sudah melampaui usia 662 tahun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *